Juta Ajrullah

Berbagi Demi Kebahagiaan Hakiki

Lebih sabar setelah Masuk Islam

Posted by jutaajrullah on 24 May 2010

Saya selalu seneng banget klo baca2 tentang testimoni para muallaf. Mereka inilah orang yang secara langsung telah mendapat Hidayah dari Allah. Satu hal yang belum tentu diperoleh manusia yang mengaku Islam sejak dilahirkan. Salah satu testimoni adalah cerita berikut ini yang saia dapatkan karena “berlangganan” majalah dari Yayasan Nurul hayat.

Saya anak kedua dari 3 bersaudara dari keluarga Hindu. Ibu saya dulu muslim, namun setelah menikah dengan bapak ia pindah ke agama bapak, Hindu. Terbilang Hindu kolot juga tidak, biasa-biasa saja. Masa kecil saya lalui di Surabaya hingga kelas 6 SD, berikutnya hingga SMA tinggal di keluarga besar bapak di Bali. Kuliah balik lagi ke Surabaya.

Ketika kuliah itulah benih-benih untuk pindah agama mulai tumbuh, apalagi kemudian saya kenal dengan seseorang yang kelak menjadi pendamping hidup saya. Dari dia pulalah saya belajar sedikit demi sedikit tentang Islam, termasuk belajar tentang bagaimana cara sholat. Bersyukur tak lama setelah lulus kuliah, saya langsung dapat kerja, juga masih di Surabaya.

Seperti air mengalir, saya jalani hidup ini apa adanya, hingga suatu ketika saya merasa pas untuk pindah jadi muslim. Sebelumnya saya mengutarakan hal itu ke orang tua saya yang masih ada di Bali. Bersyukur pula, mereka cukup demokratis. Bapak bilang, kalau itu mau saya silahkan, asal kemudian dijalankan dengan benar. Sebagaimana kebanyakan umat Hindu, setiap rumah mempunyai rumah ibadah (pura kecil), dan di sanalah upacara ritual melepas agama Hindu itu pun dilakukan dengan aneka sesajen dan mengundang tokoh Hindu. Kakak dan adik saya juga tak ada yang menentang, semuanya berjalan lancar.

Sebelumnya sempat juga tersirat dalam hati, apa mungkin ya dalam usia yang sudah 26 tahun itu saya bisa pindah agama, mampu apa tidak saya menyerap ilmu agama baru sementara agama yang lama sudah mendarahdaging dalam diri saya. Masak saya mau belajar agama dari awal lagi, begitu kira-kira sering terpikirkan. Namun rupanya hidayah Allah tetap ada, saya lalu berkeyakinan apapun dan bagaimanapun semuanya masih bisa dipelajari, tak ada kata terlambat, tak ada kata putus asa.

Saya lalu balik ke Surabaya. Tepatnya pada Agustus 2007, setelah sholat shubuh, bersama 5 orang muallaf lainnya saya mengikrarkan kalimah syahadat di Masjid Rahmad Kembang Kuning. Usai ikrar saya masih mengikuti kurang lebih 6 kali pembinaan, ya pembinaan dasar-dasar agama, sholat, ibadah dan lainnya. Alhamdulillah pengetahuan dasar-dasar ke-Islaman saya semakin mantap.

Apalagi setelah kemudian menikah, suami sering mengajak sholat jamaah di rumah yang bagi saya itu lebih tepat dan pas bagi pembelajaran ke-Islaman saya. Sebab dengan lebih banyak praktek, akan makin mudah bagi saya untuk meniru, mencontoh dan meresapi makna ibadah-ibadah ritual Islam. Karena kesibukan kerja, saya seperti tak sempat baca-baca buku apalagi si kecil yang masih berusia 16 bulan butuh perhatian ibunya. Beruntung suami dengan sabar menuntun dan membimbing saya hingga saya benar-benar merasa pas dengan Islam.

Sekali lagi saya merasa benar-benar pas dengan Islam, sebab secara tidak sadar ada beberapa perubahan mendasar pada diri saya. Pertama adalah semakin sadarnya saya tentang hubungan manusia dengan sang pencipta. Terus terang, di agama asal saya, yang namanya sembahyang itu sehari 3 kali, dan puasa setahun sekali. Meskipun sepintas lebih enteng dibanding kewajiban Islam, namun waktu itu rasanya saya agak malas-malasan. Kadang sehari cuma sembahyang sekali, dan itu pun seperti biasa-biasa saja, seperti tak ada rasa bersalah, apapun alasannya entah karena kesibukan kerja atau apa.

Setelah masuk Islam, entah kenapa, saya jadi merasa butuh dengan yang menciptakan kita, Alloh. Dengan Islam saya merasa terasah untuk senantiasa mendahulukan kepentingan ibadah dibanding kepentingan lainnya. Pas waktunya sholat, rasanya ada tarikan untuk segera menunaikannya sesibuk apapun kerja saya. Ibadah sholat alhamdulillah senantiasa saya lakukan, tak pernah bolong-bolong seperti dulu, kecuali dalam hal-hal tertentu sebagai seorang muslimah. Sungguh sebuah karunia yang tiada harganya. Lebih dekat dengan Alloh menjadikan hidup terasa lebih tenang, tenteram dan damai.

Hikmah yang lain, dengan Islam saya lebih bisa mengendalikan diri, lebih sabar.  Terus terang, dari kecil hingga sudah kerja pun saya termasuk tipe orang yang selalu ingin menang sendiri, egois, tak peduli terhadap teman sepergaulan, saudara, teman kerja, bahkan pada suami di awal-awalnya. Bila ada situasi yang bagi saya tak nyaman, saya susah dikendalikan, langsung emosi. Tak mau mengalah, inginnya menang sendiri. Yang ada selalu ingin menyalahkan orang lain. Saya tak pernah peduli, apakah orang lain itu merasa tersakiti dengan keakuan saya yang berlebih-lebihan itu. Saking emosinya, dengan suami pun kami pernah tak saling bertegur sapa. Bagi saya waktu itu, saya lah yang benar, dan suami tetap salah.

Suatu ketika saya teringat seorang atasan saya yang dalam pandangan saya beda dengan yang lain. Waktu itu saya masih Hindu, saya lihat ia selalu rajin, disiplin, punya kepedulian tinggi terhadap sesama dan menghadapi masalah dengan sabar dan telaten. Banyaknya pekerjaan yang dibebankan padanya tak memupus kesabaran yang dimilikinya, dan hasilnya pun selalu memuaskan. Lalu saya menanyakan padanya kenapa bisa sesabar itu. Dia jawab, resepnya adalah puasa rutin Senin-Kamis.

Sejenak saya tersentak akan memori itu, dan saya pun ingin mencoba ilmu itu. Alhamdulillah sedikit demi sedikit kebiasaan marah itu hilang dengan sendirinya. Bahkan timbul kesadaran betapa jeleknya kebiasaan saya selama ini, dan pasti banyak teman atau siapapun yang menjadi korban keegoisan saya. Awalnya, kalaupun ada dorongan untuk marah, saya bisa menahannya, kan percuma puasa kalau masih suka marah.

Rupanya kesabaran itu memang berbuah manis. Ada rasa ridha, kedamaian, kebahagiaan, terciptanya ‘izzah (keagungan), kemuliaan, kebaikan, kemenangan, kasih sayang dan kecintaan dari Alloh. Dengan sabar itu saya tak lagi suka berkeluh kesah dan berputus asa apabila menghadapi persoalan. Saya sadar, keluh kesah, tidak tenang, tidak tabah, cepat marah, dan cepat putus asa adalah sifat yang tidak layak disandang oleh seorang Muslim. Sekali lagi ini sebuah anugerah yang tak pernah saya dapatkan sebelumnya. Anugerah yang sungguh merupakan hidayah Alloh setelah saya jadi muslimah.

Di tengah kesendirian saya sering berharap agar semua saudara-saudara saya bisa mendapatkan hidayah untuk juga masuk Islam. Sebab, bila lebaran misalnya, di tengah kegembiraan keluarga saya dan keluarga besar suami saya, saya sering mengimpikan bisa merayakan lebaran ini juga bersama saudara-saudara saya itu. Saya ingin sholat bersama, lebaran bersama.

Cerita ini dirujuk dari: http://nurulhayat.org/2010/02/18/lebih-sabar-setelah-masuk-islam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: