Juta Ajrullah

Berbagi Demi Kebahagiaan Hakiki

Mencari Uang atau Membangun Kekayaan??

Posted by jutaajrullah on 24 May 2010

Tidak semua orang memiliki kesamaan pandangan terhadap uang maupun kekayaan. Ada golongan orang yang berpendapat bahwa kekayaan identik dengan uang yang berlimpah. Karena itu, uang harus dikumpulkan sebanyak-banyaknya untuk menjamin hidupnya. Pada golongan ini, uang seolah menjadi tujuan hidup karena mereka yakin semakin banyak uang, semakin aman hidupnya. Akibatnya, mereka tidak pernah merasa cukup dengan uang yang diperolehnya. Ada pula golongan orang yang berpandangan bahwa kekayaan tidak identik dengan uang dan materi semata, tapi juga terkait dengan kekayaan hati yang selalu bersyukur dan memahami hakikat uang secara benar.

Uang adalah sarana hidup. Uang bukanlah segala-galanya yang bisa menjamin keamanan hidup karena yang lebih penting dari uang adalah kemampuan seseorang mendapatkan uang. Kemampuan mencari dan mengelola uang, menurut golongan kedua ini lebih penting karena uang sewaktu-waktu bisa habis sementara kemampuan mencari uang tidak akan pernah lapuk. Anda mungkin sering menyaksikan betapa banyak pewaris harta yang berlimpah, kemudian harus jatuh miskin karena anak-anak orang kaya ini tidak memiliki kemampuan mencari dan mengelola uang. Mereka sudah terbiasa dimanjakan orang tuanya dengan hidup serba berkecukupan sehingga lupa belajar tentang hakikat uang dan kekayaan. Menurut Roger Hamilton, kekayaan bukanlah soal seberapa banyak uang yang kita miliki. Kekayaan adalah apa yang masih kita miliki bila kita telah kehilangan semua uang kita. Dengan demikian, pendapat Hamilton ini bisa ditafsirkan bahwa kekayaan identik dengan ilmu pengetahuan, kejujuran, networking atau kekayaan immaterial lainnya yang bisa mempermudah  kita mendapatkan uang.

Untuk memudahkan memahami perbedaan antara mencari uang semata dan membangun kekayaan, saya akan memberikan contoh atau metafora kupu-kupu dan taman kupu-kupu. Apa yang diinginkan seseorang dalam memiliki kupu-kupu salah satunya adalah karena keindahannya (sebagai salah satu manfaatnya). Begitu pula dengan menginginkan uang, sesungguhnya yang diharapkan seseorang dari uang adalah manfaat dari uang itu, bukan sekedar menumpuk-numpuk uang dengan tidak memaksimalkan untuk kepentingan dunia akhirat.

Mencari kupu-kupu disini saya maksudkan sebagai mencari uang dan taman sebagai ladang kekayaan. Sekarang pertanyaannya, “Bila seandainya anda senang dengan kupu-kupu, anda akan memilih menangkap kupu-kupu sebanyak-banyaknya kemudian memelihara kupu-kupu itu dalam sangkar, ataukah anda akan membangun taman kupu-kupu dengan menanam berbagai bunga sehingga mengundang kupu-kupu ke taman anda?”

Mari kita perhatikan, betapa banyak orang selama ini salah kaprah dalam membangun kekayaan. Banyak orang yang berkeyakinan bahwa membangun kekayaan adalah bagaimana mencari uang sebanyak-banyaknya, atau saya ibaratkan mencari kupu-kupu sebanyak-banyaknya. Mereka menangkap satu per satu kupu-kupu, kemudian memeliharanya di dalam sangkar. Setiap hari mengejar, menangkap, dan memeliharanya. Begitu seterusnya. Dalam usaha menangkap dan memelihara kupu-kupu itu, mereka seringkali kecewa karena tidak mendapatkan kupu-kupu atau kecewa karena kupu-kupu yang sudah tertangkap terbang lagi. Inilah realita kehidupan. Banyak orang yang bekerja keras siang malam mencari uang, mengumpulkan rupiah demi rupiah. Ada yang berhasil mendapatkan uang banyak, tapi tidak sedikit yang gagal. Atau sudah mendapatkan uang banyak, tapi uangnya habis karena sesuatu kejadian di luar perkiraan dirinya. Kondisi ini kemudian menjadi sumber kekhawatiran banyak orang kaya, karena semakin kaya seseorang, semakin khawatir akan kehilangan uangnya. Ini pula yang disebut sebagai paradok kekayaan.

Sekarang bandingkan kalau seseorang yang giat membangun taman untuk mendatangkan kupu-kupu. Mereka akan sibuk mengolah dan menanami lahan dengan tanaman yang indah sehingga menarik kupu-kupu datang dan berterbangan di atas taman. Mereka menikmati kupu-kupu yang indah di taman tanpa khawatir kupu-kupu itu pergi dari tamannya. Mereka tidak sibuk menangkap kupu-kupu tapi mereka hanya mengola dan menjaga taman agar tetap indah. Dengan cara seperti ini, siapapun dapat mendatangkan ribuan kupu-kupu yang indah dan memesona.

Sesungguhnya, membangun kekayaan itu ibarat membangun taman. Benihnya adalah bakat dan minat yang kita miliki, sedangkan airnya adalah ilmu pengetahuan dan jaringan (networking). Pupuknya adalah karakter kejujuran dan keikhlasan. Sedangkan mataharinya, yang berfungsi mempercepat pertumbuhan taman adalah kreativitas dan pemasaran. Sebab tanpa kreativitas, tidak akan menghasilkan karya bermutu. Tanpa ilmu pemasaran, produk sebagus apa pun tidak akan dikenal dan tidak akan dibeli masyarakat. Komponen lain dalam membuat taman adalah tanah, yang dalam hal ini terbuat dari investasi pengabdian dan kerja keras. Itulah kekayaan yang sesungguhnya. Orang yang kaya adalah orang-orang yang telah memberikan karya terbaiknya bagi masyarakat. Orang-orang kaya yang sesungguhnya adalah orang yang karyanya bermanfaat bagi masyarakat. Mereka lebih mengutamakan membangun taman kekayaan, daripada sekedar mencari dan mengumpulkan uang semata. Sekedar mencari uang tidak salah, karena ini hanya bisa dilakukan dalam jangka pendek. Tapi bila ini dilakukan terus menerus tanpa membangun kekayaan (atau membangun taman kekayaan), maka dalam jangka panjang hasilnya tidak optimal, menimbulkan kekhawatiran yang berlebihan. Takut akan kehilangan uang dan harta yang telah diraih sehingga bersifat bakhil.

Karena itu, mari membangun taman kekayaan dengan meningkatkan kemampuan kita dalam mencari dan mengelola uang. Apabila kita memiliki taman ilmu dan pengetahuan yang luas kemudian kita praktekkan dengan dedikasi tinggi penuh kejujuran dan keikhlasan, maka kita akan mendapatkan uang dengan sendirinya. Ibarat taman, pada akhirnya kita akan dikerumuni kupu-kupu yang dalam hal ini adalah uang akan datang kepada kita. Uang akan ‘mengejar’ kita karena orang lain akan membutuhkan keahlian, produk, atau bahkan senang berbisnis dengan kita. Sebagai contoh sederhana, kalau ada seorang dokter yang sangat ahli, tentu dicari pasien untuk berobat. Kalau anda ahli membuat makanan maknyus (enak sekali), maka kalau anda jual tentu akan laku, dan sebagainya.

Sebagaimana Charles Albert Poissant dkk dalam buku How To Think Like A Millionaire berpendapat bahwa uang yang diraih secara jujur hanyalah pengakuan atas jasa-jasa yang diberikan. Jadi, seorang kaya adalah seseorang yang telah memberikan jasa-jasanya kepada banyak orang dan telah diimbali secara adil karenanya.

Oleh karena itu, tidak ada pilihan bagi kita kecuali membangun taman kekayaan daripada hanya sekedar mencari uang. Sebab sifat uang itu sementara, cepat habis dan belum tentu berkembang kalau tidak bisa mengelolanya. Sedangkan sifat kekayaan adalah permanen, bertambah dan berkembang. Dengan membangun kekayaan, khususnya kekayaan ilmu pengetahuan bagaimana mendapatkan dan mengelola keuangan, maka kita tidak akan pernah takut akan kehilangan uang yang kita miliki, dan kita bisa lebih memahami hakikat uang.

Agar kekayaan dapat terealisasi, menurut Charles Albert Poissant dkk (2004), paling tidak ada tiga persyaratan awal yang harus dipenuhi untuk membangun kekayaan yaitu (1) percaya bahwa kita akan kaya (2) sadar bahwa situasi kita tidak akan otomatis berubah kalau kita tidak berbuat apa-apa tentang itu (3) dengan penuh gairah menghasratkan peningkatan dan pembelajaran secara terus menerus dalam kehidupan kita.

Source: http://nurulhayat.org

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: