Juta Ajrullah

Berbagi Demi Kebahagiaan Hakiki

Memisahkan Hati Dari Materi

Posted by jutaajrullah on 25 June 2010

Memisahkan hati dari materi, bukan berarti kita harus menjauh dari materi dan menjadi seperti kaum pertapa. Kita ini dihidupkan oleh Alloh di alam materi (dunia), karena itu kita butuh yang namanya materi. Kita ini butuh rumah, butuh pakaian, makan dan minum, butuh kendaraan untuk keperluan mobilitas dan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Untuk itu orang harus bekerja agar memperoleh materi untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Idealnya ummat Islam berkecukupan secara materi agar bisa menyempurnakan rukun Islam. Ideal agar bisa mengeluarkan zakat. Bisa bersodaqoh dan berinfaq sesering mungkin serta bisa menunaikan ibadah haji. Rosululloh justru mengajarkan kepada ummatnya agar bersungguh-sungguh dan bersemangat dalam bekerja. Beliau bersabda,” Bekerjalah kamu seakan-akan kamu akan hidup selama-lamanya. Dan beribaahlah kamu seakan-akan kamu akan mati besok.”

Walaupun sangat dibutuhkan manusia, materi tetap saja hanya sekedar sebuah instrument atau alat dalam kehidupan manusia. Materi sebagai alat, analoginya seperti pisau ditangan seorang ibu yang sedang memasak. Dalam proses memasak piosau merupakan alat yang sangat penting. Tanpa pisau seorang ibu akan banyak menemui kesulitan untuk menyelesaikan masaknya. Bagaimana akan memotong daging, saayur, ikan dan sebagainya jika tanpa pisau. Akan tetapi walaupun pisau itu penting, tidak pernah ada seorang ibu yang sedang memasak, lalau membelokkan fungsi pisau dari sakedar alat menjadi tujuan memasak.

Demikian juga dengan harta. Dalam kehidupan manusia harta merupakan instrument penting. Tanpa memiliki harta, akan menemui banyak kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Sulit untuk memiliki rumah, sulit memenuhi kebutuhan konsumsi, sulit untuk membiayai sekolah putra-putrinya dan seterusnya. Walaupun harta itu penting bagi manusia, bukan berarti boleh dibelokkan fungsinya menjadi tujuan hidup manusia. Tujuan manusia diciptakan sangat jelas, yaitu untuk beribadah kepada Alloh sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya,” Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku (QS: Adz –Dzaariyaat (51) : 56). Sedangkan harta  adalah sarana untuk menyempurnakan ibadah kepada-Nya.

Dalam konteks fungsi harta sebagai instrument atau atau saran, maka harta tidak boleh ditempatkan di dalam hati. Hati hanya boleh ditempati oleh tujuan hidup itu sendiri, yaitu Al Kholik – Alloh SWT.  Bila jalan hidup ini yang diikuti, maka segala gerak hati, pikiran dan sikap perbuatan akan terbimbing untuk senantiasa berada dijalan-Nya. Berbuat dan melangkah dengan motivasi meraih ridho-Nya. Hanya dalam konteks kekinian, jalan pikiran seperti itu boleh jadi sangat asing. Yang terajdi, tanpa disadari banya yang terseret dan terbawa arus sehingga menempatkan materi sebagai tujuan hidup. Contosederhana adalah pada proses pendidikan anak-anak. Semua orang tua bersungguh-sungguh menyekolahkan anak-anaknya. Bila perlu pilih sekolah terbaik dan bersedia membayar semahal apapun asal anaknya bisa memperoleh pendidikan formal terbaik. Tujuannya adalah agar putra-putrinya kelak bisa berkompetisi di dunia kerja agar kelak bisa hidup berkecukupan secara materi.

Sebaliknya yang terjadi, betapa sedikitnya orang tua yang betul-betul membekali putra-putrinya dengan pengetahuan agama yang memadai. Padahal pengetahuan agama merupakan jembatan utama untuk menyempurnakan tujuan hidup manusia yaitu ibadah kepada-Nya. Faktanya, lihat betapa sedikit orang tua yang yang mengirim anak-anaknya ke TPA (Taman Pendidikan Al Qur’an). Kalaupu masuk TPA, pada saat memasuki sekolah menengah pertama, apalagi menengah atas , pembekalan pengetahuan agama hampir pasti menjadi hanya kenangan. Padahal bekal pengetahuan agama selama masa usia pendidikan sekolah dasar  masih sangat dini alias minim.

Ketika bekal agama sudah tidak lagi menjadi prioritas dalam proses kehidupan anak manusia, maka ketersesatan hati tinggal tunggu waktunya. Materi yang fungsi sebenarnya adalah sebagai instrument atau alat  bisa menjadi berubah menjadi tujuan hidup manusia. Kalau itun terjadi maka kekacauan dan keruntuhan moral atau akhlak menjadi sesuatu yang niscaya. Sesuatu yang pasti akan terjadi. Halal haram bukan lagi persoalan yang perlu perhatian. Ridho atau laknat Alloh bukan lagi menjadi pertimbangan. Asal materi bisa berada dalam genggaman, apapun akan dilakukan. Bahkan dengan cara menghisap dan menyengsarakan sesama sekalipun tetap akan dilakukan.

Faktanya mengemuka di tengah hidup keseharian kita. Korupsi, pungli, manipulasi, kecurangan, mengurangi timbangan, mark up harga, dan ejenisnya marak di mana-mana. Semua itu terjadi karena materi sudah menjadi tujuan hidup manusia. Karena materi sudah mengisi ruang-ruang dalam hati manusia. Seharusnya semua ruang di dalam hati hanya untuk ditempati keagungan dan kesucian. Ruang-didalam hati hanya untuk Ilahi Robbi. Dan ketahuilah bahwa Alloh sudah memproklamirkan tidak mungkin menyatu dengan materi didalam satu hati. Firman-Nya dalam sebuah hadits Qudsi,” Aku tidak mugkin memadukan cinta kepada-Ku dan cinta kepada harta dalam satu hati.”
Kini tinggal diri masing-masing bercermin menatap dikedalaman hati. Apakah diri ini termasuk orang-orang yang bisa memisahkan materi dengan hati? Hanya kita masing-masing yang bisa menjawabnya. Semoga Alloh merahmati kita dan keluarga kita semua. Aaamiin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: