Juta Ajrullah

Berbagi Demi Kebahagiaan Hakiki

Kita ini Masyarakat Nekrofilia??

Posted by jutaajrullah on 7 July 2010

Erik Fromm adalah pemikir pertama yang secara gamblang menjelaskan paradigma masyarakat nekrofilia. Dalam bukunya The Heart of Man: Its Genius for Good and Evil (1965), ia membedakan antara pribadi nekrofilia dengan pribadi bermental biofilia. Pribadi bermental biofilia selalu berpihak pada kehidupan. Keberpihakan itu diperlihatkan dengan membiarkan ruang bagi eksistensi setiap pribadi. Ia menghargai seseorang secara utuh. Artinya, pribadi yang mengamini biofilia memperhatikan emosi, pikiran, kedirian, keunikan, serta segala kemampuan yang melekat di dalam yang lain. Ia selalu memberikan tempat bagi pertumbuhan seseorang sesuai dengan kemampuannya. Dengan demikian, sikap yang diperlihatkan oleh orang seperti ini adalah sikap positif. Ia menjunjung tinggi hak-hak, terutama hak atas hidup.

Menurut Fromm, dasar moral perilaku insan yang berkarakter biofilia adalah etika humanistik. Etika ini berintikan, manusia itu berharga karena ia adalah manusia. Karena itu, sependapat dengan Immanuel Kant, bagi Fromm orang bermental biofilia memiliki kewajiban moral untuk menjaga kehidupan dirinya dan sesamanya, dan menjamin hak-hak asasi mereka. Ia melakukan ini karena sadar akan tugas dan tanggung jawabnya sebagai manusia bermoral. Singkatnya, paradigma dari orang yang bermental biofilia bersumber dari pengakuan akan nilai eksistensial manusia.

Berlawanan dengan paradigma biofilia, orang yang menginternalisasi paradigma nekrofilia selalu berorientasi pada kematian. Bagi orang seperti ini kehidupan adalah kematian. Karena itu, tindakan orang-orang seperti ini selalu mengarah pada perusakan terhadap hidup orang lain. Ia tidak tahan melihat orang lain hidup dan berkembang. Kehidupan dan perkembangan orang-orang di sekitarnya justru merupakan gangguan baginya. Dengan demikian, dapat dikatakan juga, kaum nekrofilan tidak akan mau mengakui hak orang lain, termasuk hak hidup, melainkan berusaha untuk merampasnya. Jadi, orang bermental nekrofilia selalu memandang orang-orang di sekitarnya sebagai objek yang harus ditaklukan. Dalam paradigma seperti ini jelas tidak mungkin bagi pribadi seperti ini mengakui eksistensi yang lain, selain berusaha menghancurkannya dengan berbagai cara.

Oleh karena itu, sekali lagi meminjam terminologi Immanuel Kant, kaum nekrofilian selalu memutlakkan etika teleologis, yang intinya, membenarkan segala cara untuk mencapai tujuan. Nilai tindakan bukan sesuatu yang penting. Yang penting adalah tercapainya tujuan yang diinginkan. Konsekuensinya, bagi orang bermental seperti itu cara buruk bukan masalah. Hal ini tentunya berimplikasi terhadap berkembangnya masyarakat dengan paradigma nekrofilia. Suatu masyarakat yang berada di dunia yang serba terbalik, sebuah masyarakat bertopeng. Suatu masyarakat yang menganggap kesederhanaan sebagai keterbelakangan, kerakusan sebagai suatu kemajuan, kesalehan sebagai suatu kebodohan, dan kelicikan dianggap sebagai sebuah kemenangan. Semua ini pada gilirannya kemudian menghasilkan sebuah negeri yang pemimpinnya adalah penipu, tokoh agamanya pendosa dan pahlawannya adalah perampok.

Kondisi masyarakat nekrofilia sangat mirip dengan gambaran Thomas Hobbess yang mengibaratkan manusia adalah serigala bagi sesama, yang siap untuk menerkam lawan. Jika ada persahabatan, maka sifatnya sangat sementara, karena kalau situasi sudah memungkinkan maka ia akan menggertak dan memangsa yang lain. Naluri manusia yang tak pernah padam, yang mengedepankan paradigma nekrofilia adalah kehendak untuk berkuasa (Nitsche, 2003). Rasa puas muncul jika pihak lain telah menyerah. Kehidupan masyarakat menjadi hiruk pikuk dan penuh perkelahian, kerusuhan, pembunuhan dan fitnah. Itu semua hanya demi sebuah kekuasaan dan kemegahan yang ditempuh dengan menjungkalkan lawan.

Lahirnya manusia atau masyarakat nekrofilia ini, menurut Zauhar (2007), dipicu oleh kebiasaan manusia yang lebih mengedepankan pemenuhan wants daripada needs. Kebutuhan psikologis merupakan hasrat yang tak terbatas, karena ini dikondisikan oleh masyarakat dan dipupuk melalui sistem kebijakan dan periklanan. Atas dasar itulah amat wajar jika kebanyakan atau lebih tepatnya banyak oknum pejabat yang tidak memberitahukan penolakannya terhadap pembangunan Mall, pembangunan lapangan golf, walaupun kesemuanya itu menyengsarakan masyarakat luas.

Dalam masyarakat dan birokrasi kita masih ada kultur keseharian dan kultur politik-administrasinya bersifat nekrofilia. Kultur keseharian kebanyakan orang adalah kultur yang memuja kekerasan. Banyak orang senang terhibur dengan tayangan-tayangan televisi yang mempertontonkan kekerasan, tindakan kriminal yang sadis, pengungkapan gosip dan aib orang lain, serta kejelekan sebagai hiburan yang menyenangkan. Kebanyakan dari kita justru memberi perhatian lebih pada tayangan-tayangan televisi tetang tawuran antar pelajar, antar desa, antar mahasiswa, antar suporter bola dan sebagainya. Ini semua tentu menjadi lahan subur bagi tumbuhnya kultur nekrofilia yang menghasilkan masyarakat nekrofilia.

Birokrasi dalam masyarakat nekrofilia dengan tanpa malu akan membela kepentingannya dan tidak pro rakyat, bahkan mereka menakut-nakuti rakyatnya sendiri. Birokrasi dalam masyarakat nekrofilia termasuk ke dalam horocarcy, yaitu suatu sistem birokrasi dimana di dalamnya terdapat situasi yang mencekam dalam arti sosial. Dalam hal ini, kreativitas menjadi terpasung, inovasi tidak berjalan dan bahkan partisipasi menjadi hilang ditelan bumi. Kultur birokrasi kita pun mengarah pada paradigma nekrofilia.

Kita masih bisa menyaksikan birokrasi kita sampai saat ini masih saja tidak responsif dan solutif dalam menangani korban Lapindo di Sidoarjo, yang mengganggu kelancaran transportasi, memburamkan masa depan generasi muda yang ada di sana, mengganggu kinerja perekonomian dan pendidikan yang ada di sekitar wilayah semburan lumpur Lapindo. Birokrasi kita juga masih belum berpihak kepada rakyat, belum peduli terhadap harkat dan martabat manusia. Kita juga masih bisa menyaksikan saat ini betapa kekuatan mekanisme sosial menyumbat aspirasi alternatif, membelenggu kebebasan, menghambat perkembangan, mengerdilkan potensi yang ada dan melumpuhkan daya kreativitas. Dalam masyarakat nekrofilia, hukum dan kebijakan dibentuk untuk memeras rakyat demi kepentingan pejabat. Atas nama kepentingan umum, kalangan mayoritas menjadi bisa menindas kalangan minoritas dan sebaliknya, minoritas dapat membungkam mayoritas. Hukum tidak hanya dijadikan sebagai alat rekayasa sosial, akan tetapi juga sebagai alat rekayasa untuk melakukan korupsi. Hal ini akan menjadi lebih buruk lagi jika upaya korupsi dan memperkaya diri itu dilakukan oleh elite penguasa di tengah kemiskinan rakyat.

Diolah dari berbagai Sumber..

One Response to “Kita ini Masyarakat Nekrofilia??”

  1. bukmacher said

    Great info, thanks for useful post. I am waiting for more

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: