Juta Ajrullah

Berbagi Demi Kebahagiaan Hakiki

Kabut Pekat Al Kitab

Posted by jutaajrullah on 26 August 2010

Dalam Bibel (kitab suci Nasrani), para penulisnya bukanlah saksi hidup pada masa Isa, dan tidak ada seorangpun yang sempat menghafal ajaran Yesus secara mendetail kemudian menuliskannya seperti halnya Al Qur’an.

Kabut tebal menyelimuti riwayat penulisan Al Kitab yang tidak jelas asal-usulnya. Laksana berjalan di tengah kabut hitam pekat yang tak tentu arah dan tak jelas memandang ke depan. Misteri tentang siapakah yang menulis Injil yang beredar saat ini, benarkah mereka adalah saksi sejarah?! Hal ini masih mengundang tanda tanya besar.

Dalam buku Al Kaunul Mansyur, disebutkan bahwa Injil-Injil itu tidak dapat disebut sebagai dokumen sejarah.  Markus menulis Injil tahun 70 M, Matius menulisnya pada tahun 100 M, sedangkan Lukas tahun 80 M, dan Yohanes menulis Injilnya pada tahun 110 M. Jadi, mereka bukanlah saksi sejarah, melainkan orang yang merangkai dari kumpulan-kumpulan cerita yang pernah diperolehnya.

Dalam Perjanjian Lama disebutkan, Tuhan pernah berfirman bahwa orang-orang Israel itu sangat durhaka dan hobi mengubah-ubah kitab suci (Lihat Kitab Mikha, 3: 1-12 dan Ulangan, 31:27). Akibatnya, antara kebenaran Ilahi dan kesalahan manusiawi pun bercampur.

Menurut Lukas, disebutkan ketika menulis Bibel sebagai berikut:

“Banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi diantara kita, seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan firman. Karena itu setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu, supaya engkau dapat mengetahui segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar” (Lukas, 1: 1-4).

Disebutkan dengan jelas dan terbukti, bahwa Lukas menulis Injil setelah ia menyelidiki dari cerita-cerita orang-orang terdahulu, jadi bukan diwahyukan oleh Roh Kudus. Selain itu, sudah jelas bahwa dia bukanlah saksi sejarah. Oleh karena itu, Lukas mengumpulkan cerita yang mempunyai dua kemungkinan, yaitu bisa benar dan juga salah. Mengingat metode penulisan yang demikian, kumpulan cerita versi Lukas berbeda dengan cerita versi Matius dan juga kumpulan cerita versi Markus maupun Yohanes.

Sebagai bahan perbandingan, mari kita lihat penuturan mereka dalam kasus yang sama sebagai berikut:

Matius menulis, “Yesus berkata, ‘Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu, janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, jangan kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat…..” (Matius 10:10)

Markus menulis, “Yesus berkata, ‘Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka kecuali tongkat, roti pun jangan, bekal pun jangan, uang dalam ikat pinggang pun jangan, boleh memakai alas kaki tapi jangan memakai dua baju.’ ” (Markus, 6: 8-10)

Kedua tulisan tersebut menceritakan pesan yang sama namun bila kita perhatikan dengan teliti mempunyai muatan yang berbeda.

Kontradiksi, inilah yang terjadi. Perbedaan penulisan satu sama lain, telah banyak diakui oleh para peneliti dari kalangan mereka sendiri. Antara lain, Dr. Stras (1835) dalam Life of Jesus menulis bahwa semua peristiwa yang berkenaan dengan biografi Yesus pada semua Injil dikutip dari khurafat (cerita) kaum penyembah berhala. Tokoh lain, Prof. Dreioz dari Jerman, Courtso dari Perancis, Prousber, Vitoris, Matcheoru, mereka mengatakan bahwa Yesus hanyalah nama seorang pribadi khayalan belaka.

Prof. Sharl Jenniber, seorang penganut Kristen, mengatakan bahwa sebenarnya bagian terbesar dari pasal-pasal dalam Bibel menunjukkan bahwa isi  kitab itu datang dari nafsu penulisnya sendiri, bukan dari Yesus. Pasal-pasal yang diduga kuat sebagai shahih hanya berkisar 4 sampai 5 pasal saja. Ini pun masih diselimuti setidak-tidaknya oleh masalah penerjemahan atas nash aslinya yang sudah raib.

Akan tetapi, yang paling membuat tercengang adalah ungkapan Virar dalam Life of Christ, ia menulis bahwa kelahiran Yesus tidak dikenal dalam sejarah. Sementara itu, Encyclopedia Britanica mengkritik keras riwayat Injil yang menetapkan malam kelahiran Yesus di akhir tahun yang dihadiri para penggembala. Kritikan itu mempertanyakan bagaimana hal itu dapat terjadi sedangkan pada bulan Desember di Palestina turun hujan lebat.

Referensi: Sejarah Injil dan Gereja, GIP, 1991

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: