Juta Ajrullah

Berbagi Demi Kebahagiaan Hakiki

Mengapa Loyalis KPSI Menginginkan Timnas Kita Gagal dan Sakit Hati Jika Timnas Menang??

Posted by jutaajrullah on 9 January 2013

Setelah sempat tiarap dan berdiam diri paska kemenangan Timnas atas Timor Leste dan berhasil menahan imbang Timnas Kamerun yang juga dihadiri cukup banyak penonton , sekarang saat Timnas hampir kalah dalam pertandingan seri melawan Timnas Laos dengan akhir 2:2 maka para penyembah KPSI mulai percaya diri untuk tampil lagi,

Tampil dengan semangat baru menyerang Timnas dan PSSI, entah dengan akun lama atau akun baru, namun semangatnya sama yaitu mensabotase Timnas, merebut hati dan pikiran pembaca Kompasiana serta memenangkan pertempuran merebut hati dan pikiran masyarakat pecinta bola Indonesia.

Ketakutan Penyembah KPSI bahwa TImnas akan bermain superior hilang saat Timnas gagal menang. Padahal Timnas juga tidak kalah , apalagi keberhasilan timnas kita dengan kegigihan pemain mengejar ketertinggalan dan bisa mencatat seri 2:2 yang  jelas jauh lebih baik dari kekalahan telak yang dialami malaysia dari kita dulu, atau kekalahan 0:3 Timnas Malaysia dari Timnas Singapura pada malam  itu juga.

Yang terpenting jelas sangat menggembirakan bagi rakyat indonesia yang menjadi pendukung timnas kita, disaat kita hampir kalah adalah semangat juang pemain timnas kita samapai menit menit terakhir berhasil menjebol gawang laos

Perjuangan ini akhirnya terhindarlah timnas dari kekalahan yang tentunya sangat diharapkan para pecundang pengkhianat  penyembah KPSI yang memang punya proyek besar mensabotase timnas kita yang juga timnas para pecundang ini juga

Sangat  jelas dari komentar mereka bahwa hasil seri sangat menjengkelkan bagi penyembah KPSI yang mendukung sabotase timnas karena memang kekalahan timnas kita adalah tujuan perjuangan mereka

Nampak dalam komentar para penyembah KPSI  jadi lebih dan makin sakit hati karena harapan kelompok demit setan pohon beringin ini bahwa timnas kita kalah tak terkabul, asal usul sakit hati dan kegalauan level akut ini karena rasa iri dan dengki setan demit pohon beringin

Mereka berbagi tugas, ada yang bertugas tetap menghujat dan mengolok-olok dan ada yang sok bijak punya pengertian tentang masalah permainan timnas,bahkan  pengkhianat2 ini malah ada yang sok ikut memberi nasehat seolah mereka tidak pernah menghujat dan bukan suporter proyek sabotase terhadap timnas

Soal kambing hitam kita pendukung timnas nggak usah repot repot dan sibuk menunjuk atau menuduh siapa setan belank yang pantas jadi kambing hitamnya, para pengkhianat ini sudah mengerti sendiri dan sadar betapa besar peran dan keterlibatan mereka dalam mendukung proyek kpsi mensabotase timnas

 Terbukti sejak dua hari ini mereka sudah sok sibuk membela diri sendiri dengan proaktif menuduh pendukung timnas pasti akan mencari kambing hitam,  sekali lagi pro timnas pssi nggak pernah terpikir menuduh kpsi dan isl sebagai penyebab atau gara-gara timnas tidak maksimal

(padahal nggak ada pendukung timnas yang menyalahkan KPSI  dan Klub ISL  atas hasil imbang ini karena semua juga sudah tahu siapa yang sangat menginginkan timnas gagal dan berprestasi tidak maksimal )

Bahkan kita bisa monitor justru penyembah KPSI yang kelihatan sibuk proaktif menuduh duluan bahwa pasti pro timnas PSSI yang akan menuduh mereka sebagai kambing hitam…kelihatan geer dan bangga berhasil menahan kelajuan prestasi timnas

KPSI sangat mengandalkan antara kekuatan mengatur ISL dan klub-klubnya dilapangan serta digabungkan pemberitaan media lewat strategi komunikasi menggunakan tehnik agenda setting, framing , retorika dan agitasi serta propaganda (kalau isinya jelek namanya propaganda hitam).

Mereka sangat kuat dan terkoordinasi, meskipun membuat jadi agak arogan dan terlalu percaya diri yang mengakibatkan timbul kelengahan. Sehingga mereka tidak menyadari atau terlambat menyadari bahwa sesungguhnya yang dihadapi bukanlah PSSI dibawah pimpinan Prof.Djohar melainkan AFC/FIFA yang berniat membersihkan salah satu federasi bola paling korup dijajaran FIFA yaitu PSSI pra Djohar.

Syukurlah ,terimakasih pada strategi penggembosan KPSI oleh AFC/FIFA yang selalu menunda tenggat waktu sanksi sehingga saat KPSI berkonsentrasi bersiap menghadapi tenggat sanksi baru maka PSSI bisa tetap bekerja dan berkarya, serta memperbaiki performance.

http://olahraga.kompasiana.com/bola/2012/08/23/kisah-kisruh-bola-nasional-pemberontakan-propaganda-sabotase-penyanderaan-klub-dan-kudeta-gagal-kpsi-488180.html

Saya memilih membela PSSI saat kelihatannya kemenangan  besar nampaknya akan diperoleh oleh KPSI, minimal dalam opini, tanya kenapa ? karena saya melihat ada hal-hal yang tidak beres dalam kisruh ini, ada fakta2  yang disembunyikan dalam berbagai berita, ada peran besar kampanye hitam dalam upaya menggulingkan PSSI.

Kita harus  menggunakan pendekatan kritikal pada analisa konflik antara PSSI dan KPSI. Kebetulan minat saya cukup tinggi dalam filsafat Teori Kritis khususnya Teori Contra Hegemoni Antonio Gramsci.Saya mengandalkan teori-teori yang menganalisa adanya penindasan dibalik wacana atau teks yang terlihat dalam konflik ini, kita bisa menganalisa sebetulnya siapa yang berjuang meruntuhkan sistem lama dan siapa yang sebetulnya berjuang mempertahankan status quo.

Akhirnya setelah riset kecil menggunakan metode Analisa Wacana Kritis (Critical Discourse Analysis) terhadap isi teks berita dan perbedaan pemberitaan tentang PSSI dan KPSI, saya mendapati yang pasti kelompok KPSI memiliki kemewahan akan kelimpahan pemberitaan media sedangkan PSSI tidak seberuntung itu.

Namun disisi lain nampak jelas dengan metode ini siapa yang memiliki ciri-ciri penindas, yaitukelompok yang memiliki kelebihan memiliki  lebih banyak jenis opini dan kebebasan bersuara serta  lebih banyak memiliki corong saluran media, sedangkan yang tertindas lebih sedikit jenis opininya serta kurang bebas bersuara dan memiliki lebih sedikit corong saluran media.

Dari hal ini  bisa dilihat sebetulnya siapa yang sebetulnya punya kekuasaan atas berita sepakbola Indonesia, siapa yang selama ini mengatur opini persepakbolaan, siapa yang memiliki dominasi,mempunyai power hegemoni dan menguasai pendapat opini public yang disebut sebagai “public consent” tak lain dan tak bukan adalah KPSI

Jadi siapa yang sedang melaksanakan Kontra Hegemoni terhadap status quo k hegemon lama di PSSI ?       Apakah PSSI atau KPSI ?

Analisa saya justru mendapati yang sedang berjuang membebaskan sepakbola dari hegemoni adalah PSSI, sedangkan yang mengaku di dzolimi atau ditindas yaitu pihak KPSI/ISL (yang disebut-sebut oleh teman saya Mas MD sebagai anak atau pengikut PSSI) adalah sebenarnya kelompok yang selama ini menjadi hegemon dalam system sepakbola nasional sebelumnya

Jadi saya memihak PSSI karena merekalah yang berjuang membebaskan sepakbola Indonesia dari Hegemoni kekuatan yang mencengkeram sepakbola nasional selama ini. Kelompok hegemon inilah yang selama ini telah menguasai kegiatan sepakbola nasional dari hulu sampai hilir, menguasai media,wartawan, dan yang terpenting mengendalikan opini publik Indonesia.

http://olahraga.kompasiana.com/bola/2012/08/23/benteng-terakhir-sepak-bola-korup-indonesia-detik-detik-terakhir-kpsi-488096.html

Dengan kekuatan hegemoni mereka relatif lebih bebas  melakukan apapun dan ironisnya publik yang sudah dicengkeram dalam hegemoni bertahun-tahun justru malah membenarkan dan bahkan membela mereka karena “consent” dalam kesadaran mereka system itu yang benar dan terbaik, publik dan pendukung KPSI tidak kritis sedikitpun untuk melihat pilihan lain yang lebih baik,

sebagai contoh sikap pembelaan habis-habisan teman-teman pro KPSI yang seolah mereka memperjuangkan sesuatu yang suci, meskipun mereka dan publik sendiri sebetulnya selama ini menjadi bulan-bulanan rekayasa berita dan dominasi dari kelompok KPSI ini.

http://olahraga.kompasiana.com/bola/2012/08/10/motif-la-nyalla-pastikan-sanksi-bagi-indonesia-484828.html

Slogan-slogan,tingkah laku dan perkataan pimpinan kelompok KPSI sangat khas bercirikansikap para hegemon, kelompok penguasa lama dan pemilik status quo, disisi lain justru sikap pimpinan PSSI  malah  menunjukkan bahwa merekalah meskipun pimpinan sepakbola nasional namun justru mereka dalam posisi sedang berjuang untuk membebaskan sepakbola nasional dari cengkeraman hegemoni penguasa lama

Ini makin dipertegas dengan fakta saat Deputi Sekjen PSSI Saleh Mukadar mencoba bernegoisasi dengan pihak Nirwan Bakrie, mereka (KPSI/Bakrie) setuju damai asal Liga Profesional dan Timnas dalam kendali mereka sedangkan PSSI mengurus pembinaan dan soal “association matters”.

“ Deputy Sekjen PSSI bidang kompetisi Saleh Mukadar mengatakan, PSSI sudah beberapa kali mencoba mengundang klub-klub. Tapi, undangan itu tidak pernah direspons. “Siapa yang menghendaki dua kompetisi? Kan mereka,” kata Saleh kepada Jawa Pos di kantor PSSI tadi malam.

Saleh mengungkapkan, dia pernah bertemu dengan Rahim Soekasah yang menurutnya adalah wakil dari Nirwan Dermawan Bakrie, bekas wakil ketua umum PSSI. Sayang, pertemuan itu tidak membuahkan hasil.

“Rahim minta pihak mereka menjadi PENGENDALI TIMNAS dan KOMPETISI PROFESIONAL. Sedangkan kami fokus ke kompetisi amatir, pembinaan usia dini, dan sport science,” beber Saleh. “

http://www.jpnn.com/read/2011/11/30/109553/PSSI-Pecah-Kongsi,-Kompetisi-Terbelah-

Jadi memang saya menulis artikel dalam kanal bola menggunakan teori kritis  dengan tujuan membantu PSSI meruntuhkan dominasi kaum dan budaya hegemon lama yang menggunakan KPSI sebagai alatnya, dengan tulisan yang bertujuan  untuk merebut hati dan pikiran masyarakat, khususnya hati dan pikiran publik pecinta sepakbola kita, dimulai lewat kompasiana dan kedunia cyber ini.

Saya memang membantai citra KPSI, semata-mata karena merasa harus membela ketidak adilan bahwa kaum KPSI ini benar-benar sangat powerful  dan awalnya mampu membuat citra PSSI babak belur  secara terkoordinasi dengan kekuatan yang jauh lebih kuat dari para pembela PSSI, namun sayang seribu sayang kekuatan itu runtuh karena strategi komunikasi yang lemah akibat percaya diri berlebihan sehingga menimbulkan aroganisme pimpinan KPSI dan Klub-Klub ISL.Akibatnya dalam perjalanan waktu membuat strategi perang informasi dan pencitraan KPSI jadi berantakan.

Apalagi sejak “The Biggest KPSI Information Disaster” waktu kesombongan KPSI menelorkan manifesto KPSI dalam Kongres Ancol yang point ke 7 nya menyebutkan bahwa sanksi FIFA adalah pilihan terbaik bagi KPSI  saat gagal mengkudeta Prof.Djohar sebagai Ketua Umum PSSI.

http://www.solopos.com/2012/olahraga/klb-kpsi-la-nyalla-ketua-rahim-wakil-ketua-lahirkan-manifesto-171527

Celakanya pimpinan KPSI tampaknya tidak memiliki jiwa sportif, tidak mau atau tidak mengenal kekalahan, karena sesungguhnya mereka bukan olahragawan tapi politikus, Akibatnya mereka tidak biasa / tidak mau bernegoisasi pada saat posisi sangat kuat tujuh bulan yang lalu,  dan saat sekarang dalamposisi jauh lebih lemah mereka tetap tidak bisa bernegoisasi dengan baik agar kepentingan mereka di akomodasi.

Sebaliknya kurangnya kemampuan analisa serta akibat sifat dan perilaku arogan mereka saat KPSI masih kuat waktu mendeklarasikan kudeta pada PSSI membuat akhirnya sekarang  saat posisi  mereka jauh lebih lemah tidak bisa menjilat ludah kembali untuk menerima kekalahan dalam perundingan JC di Jakarta, sehingga kembali KPSI menjegal agenda JC yang akibatnya lebih mematikan bagi KPSI karena sidang JC berikutnya  diputuskan dilaksanakan di Kuala Lumpurdimana kekuatan agenda setting KPSI tak berarti apa-apa tanpa dukungan VivaNews dan menghadapi pengurus AFC dan FIFA.

Hal yang menjegal KPSI adalah kenyataan pahit sebetulnya lawan yang dihadapi bukan PSSI yang seolah nampak mudah dihadapi, melainkan sebetulnya KPSI langsung menghadapi  AFC/ FIFA yang  selalu berada dibelakang PSSI dalam program bersih-bersih sisa-sisa rezim lama yang kita sudah tahu sendirilah bagaimana model birokrasi era orde baru menjarah suatu organisasi besar macam PSSI,

Bukti sangat jelas adanya dukungan penuh AFC/FIFA pada PSSI, terbukti dengan AFC/FIFA sampai tiga kali (3 X) memberi tenggat waktu sanksi baru pada PSSI dan setiap jatuh tempo pasti diberi waktu lagi, Time line yang tidak bisa diprediksi hasilnya ini lambat laun berhasil merontokkan kekuatan dan pengaruh KPSI, karena perjuangan KPSI pasti punya batas waktu, baik batas kekuatan dana, kekuatan citra dan sulitnya mempertahankan integritas mereka untuk menutupi kebohongan dengan kebohongan baru.

Sementara disisi lain PSSI bisa terus berkembang makin kuat menumbuhkan hegemoni baru yang positif dengan berkarya membangun sistem pembinaan sepakbolamenjalankan liga danmembentuk Timnas yang tangguh, serta merebut hati dan pikiran rakyat serta pemerintah Indonesia disamping tetap menjaga dukungan dan simpati hati dan pikiran pengurus AFC serta FIFA.

Sekarang akhirnya nampak PSSI sudah makin menguat pengaruh hegemoninya, sedangkan di sisi lain KPSI mulai berkurang pengaruhnya . Kata-kata La Nyalla dan Lalu Mara Satria Wangsa yang merencanakan pembentukan Timnas KPSI menunjukkan sikap “pokoknya harus” yang justru menunjukkan kepanikan akan hilangnya status quo dan berbagai kemudahan yang pernah mereka miliki sebelumnya,

Bagaimanapun juga orang seperti La Nyalla seperti biasa dari track recordnya sebagai kutu loncat bisa bebas pergi loncat dari urusan konflik KPSI dan PSSI untuk mencari lahan jarahan lain, namun bagi klub-klub ISL dan para pembantu dekat Nurdin Halid, Andi matalata dan Nirwan Bakrie yang selama ini menguasai sepakbola Indonesia, maka bila PSSI berhasil mengendalikan sepenuhnya sepakbola nasional berarti kiamat bagi mereka, targetnya jelas Pemilu 2014 dan tetasan uang mudah  bisnis sepakbola.

Pendapat Pribadi dari Penulis Aslinya yang sejalan dengan pemikiran saya. Artikel asli penulis bisa dilihat di sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: