Juta Ajrullah

Berbagi Demi Kebahagiaan Hakiki

Kisah Joseph Clair Duquette, Masuk Islam karena Benci Makan Babi

Posted by jutaajrullah on 11 January 2013

Nama saya Joseph Clair Duquette. Saya lahir di Edmonton, kota cantik nan nyaman di Provinsi Alberta, Kanada. Sebuah negara yang amat menjunjung tinggi hak-hak individu, termasuk diantaranya adalah hak untuk memeluk atau tidak memeluk suatu agama. Hal ini juga berlaku dalam keluarga saya. Mama saya penganut Katolik sementara Papa totally faithless. Tidak punya kepercayaan terhadap agama sama sekali.

Layaknya keluarga lain di Kanada, masa kecil saya tumbuh dalam kehidupan Katolik. Mama sesekali mengajak pergi ke gereja, mengenal ritus-ritusnya, termasuk juga mengenal kehidupan para pastornya.


Kehidupan berjalan, dan saya semakin dewasa untuk memutuskan segala sesuatu berdasar pengalaman hidup diri sendiri. Mata saya mengamati dan naluri saya menilai. Di beberapa kesempatan saya menyaksikan banyak pastor yang ternyata menyimpang dari ajaran yang mereka sampaikan. Hal itu membuat saya menjadi apatis terhadap agama dan lebih banyak mengisi kehidupan dengan kesibukan pekerjaan. Namun syukurlah saya tidak sampai seperti papa. Saya masih percaya adanya Tuhan tetapi bimbang dalam kehidupan agama.

Kanada adalah Negara yang amat plural. Meski didominasi Katolik, Protestan dan orang-orang yang tidak berafiliasi terhadap salah satu agama, namun hampir semua agama ada di sana. Satu diantaranya adalah Islam. Beberapa teman saya pun beragama Islam sehingga sedikit banyak saya tahu ritual-ritualnya, seperti sholat, puasa dan keharaman daging babi. Untuk yang terakhir ini saya memiliki kesamaan dengan Islam karena saya juga benci makan daging babi. Saya pun mulai ingin tahu apa itu Islam. Meski tidak intens, di beberapa kesempatan saya baca buku-buku mengenai Islam.

Alhamdulillah Allah menakdirkan saya semakin dekat dengan Islam. Di saat yang hampir bersamaan, Allah mengirimkan seseorang yang kelak menjadi pendamping hidup saya. Namanya Rika, seorang warga Indonesia yang sama-sama tengah berlibur di Meksiko. Pembawaannya yang tenang, dewasa dan bersahaja membuat saya semakin dekat dengannya. Ternyata, Rika bekerja juga di Kanada. Kami pun sering saling kontak kemudian mengenalkannya dengan keluarga saya.

Karena kepribadiannya yang terbuka, tanpa kesulitan berarti Rika bisa menjalin keakraban dengan orangtua saya, terutama mama. Dan yang lebih menarik, Rika tanpa rasa takut menjelaskan detail apa dan bagaimana Islam kepada keluarga saya. Dia memaparkan konsep “Tuhan”, “Ibadah”, “Toleransi antar Umat beragama” dan beragam hal mulia lainnya yang baru saya jumpai dalam Islam. Dalam setiap diskusi, dia tidak pernah memaksa kami untuk berpindah keyakinan. Sehingga saya justru dibuat mengerti melalui pemahaman dan pencarian saya sendiri.

Yang saya suka dari Islam adalah adanya aturan dan larangan yang berimplikasi baik bagi para pemeluknya. Misalnya larangan makan babi serta mengonsumsi minuman yang haram. Ajaran Islam benar-benar make sense, sangat bisa diterima akal sehat.

Namun di kedalaman hati saya masih terbetik sedikit rasa berat. Anda tau, di negara barat yang medianya penuh dengan propaganda yang menyudutkan Islam, menjadi muallaf adalah sesuatu yang tidak mudah. Rasanya seperti seseorang yang akan diceburkan ke dalam kolam lumpur. Sangat sulit, dan banyak yang mengingatkan akan ‘bahayanya’. Entah itu terorisme, kekerasan maupun stempel negatif lain yang disandingkan dengan Islam. Namun saya tahu bahwa para teroris itu adalah orang-orang yang terlalu sempit menerjemahkan Islam, karena Islam yang saya kenal tidak mengajarkan demikian.

Sahabat-sahabat saya yang muslim adalah orang-orang yang hangat dan menyenangkan. Kehidupan mereka bersih, disiplin dan tertata baik. Sehingga setelah sekian lama membaca beragam literatur tentang Islam plus berdiskusi dengan sejumlah sahabat muslim maka saya pun mantab memilih Islam.

***

Pagi itu, Jum’at 9 November 2012. Surabaya yang sedang bermandi hangatnya cahaya matahari menjadi saksi ikrar keislaman saya. Dengan memakai baju takwa dan kopiah hitam, saya mantap mengucapkan Asyhadu alla ilaaha illallah, wa asyhadu anna muhammadar rasulullah…. Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul utusan pembawa pesan-pesan Allah.

Penantian itu akhirnya benar-benar berakhir. Saya begitu bersemangat melepas agama saya yang dahulu dan menukar dengan agama yang indah ini. Saking semangatnya rasanya saya tak mau melepas baju takwa dan kopiah saya. Sesaat seusai ikrar, saya pun langsung menuju masjid melaksanakan Shalat Jumat pertama saya. Melihat orang-orang memakai sarung, saya juga berusaha mengenakannya. Tetapi karena kedodoran gara-gara masih belum bisa memakainya, tak sampai lima langkah sudah melorot. Tapi saya tak surut, saya coba lagi dan lagi. Namun tetap tidak bisa.

Kejadian lucu lainnya adalah di akhir shalat Jum’at. Usai imam mengucapkan salam, dengan gagahnya saya jawab, “Wa’alaikum salam…!!” Orang-orang pun tersenyum menatap ke arah tempat duduk saya. Mengetahui saya baru saja menjadi muallaf, mereka datang berebut bersalaman dan memeluk tubuh saya. Amat mengharukan. Meski jauh dari Kanada, namun rasanya saya seperti menemukan kerabat-kerabat dekat yang melebihi saudara kandung sendiri. Hm… beberapa kejadian lucu tapi menyenangkan yang menjadi bumbu hari pertama keislaman saya. Saya seakan terbang di antara awan-awan kebahagiaan…

Sejauh ini, saya menikmati hari-hari menjadi hamba Allah. Cita-cita saya sederhana saja. Ingin menjadi muslim dan imam yang baik bagi istri dan anak-anak. Membina keluarga sakinah, mawaddah, warohmah. Yang jelas, banyak pekerjaan rumah yang harus saya pelajari. Insya Allah dengan kekuatan doa dan semangat keislaman saya siap mengalokasikan waktu, tenaga dan pikiran untuk kian memahami ajaran Islam ini.

Saya pun berharap keluarga saya bisa berhijrah ke dalam Islam. Saya akan membuktikan bahwa sosok Yusuf kini adalah sosok pria yang punya akhlak lebih mulia setelah menjadi pemeluk Islam. Memang caranya musti pelan-pelan, slowly but sure, Insya Allah.

Sumber: http://www.nurulhayat.org/nurulhayat/ina/artikel-detail/saya-juga-benci-
makan-babi/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: