Juta Ajrullah

Berbagi Demi Kebahagiaan Hakiki

Peduli itu Perlu..

Posted by jutaajrullah on 30 April 2013

Alkisah, ada sepasang suami dan istri petani pulang ke rumah setelah berbelanja. Ketika mereka membuka barang belanjaan, seekor tikur memperhatikan dengan seksama sambil menggumam, “Hmmm… makanan apa lagi yang dibawa mereka dari pasar??”

Ternyata, salah satu yang dibeli oleh petani ini adalah perangkap tikus. Sang tikus kaget bukan kepalang. Ia segera berlari menuju kandang dan berteriak ” Ada perangkap tikus di rumah… di rumah sekarang ada perangkap tikus….”

Ia mendatangi ayam dan berteriak, “Ada perangkap tikus”. Sang ayam berkata, “Tuan tikus…, aku turut bersedih, tapi itu tidak berpengaruh terhadap diriku.”
Sang tikus lalu pergi menemui seekor kambing sambil berteriak. Sang Kambing pun berkata, “Aku turut bersimpati… tapi tidak ada yang bisa aku lakukan.”

Tikus lalu menemui sapi. Ia mendapat jawaban sama. “Maafkan aku. Tapi perangkap tikus tidak berbahaya sama sekali buat aku.”

Ia lalu lari ke hutan dan bertemu ular. Sang ular berkata, “Ahhh… Perangkap tikus yang kecil tidak akan mencelakai aku.”

Akhirnya sang tikus kembali ke rumah dengan pasrah mengetahui kalau ia akan menghadapi bahaya sendiri.

Suatu malam, pemilik rumah terbangun mendengar suara keras perangkap tikusnya berbunyi menandakan telah memakan korban. Ketika melihat perangkap tikusnya, ternyata seekor ular berbisa. Buntut ular yang terperangkap membuat ular semakin ganas dan menyerang istri pemilik rumah.

Walaupun sang suami sempat membunuh ular berbisa tersebut, sang istri tidak sempat diselamatkan.

Sang suami harus membawa istrinya ke rumah sakit dan kemudian istrinya sudah boleh pulang namun beberapa hari kemudian istrinya tetap demam.
Ia lalu minta dibuatkan sop ceker ayam (kaki ayam) oleh suaminya karena sop ceker ayam sangat bermanfaat buat mengurangi demam. Suaminya dengan segera menyembelih ayamnya untuk dimasak cekernya.

Sakit sang isteri tidak kunjung reda. Seorang teman menyarankan untuk makan hati kambing. Ia lalu menyembelih kambingnya untuk mengambil hatinya.

Masih, istrinya tidak sembuh-sembuh dan akhirnya meninggal dunia.
Banyak sekali orang datang pada saat pemakaman. Sehingga sang petani harus menyembelih sapinya untuk memberi jamuan orang-orang yang melayat.

Dari kejauhan… Sang tikus menatap dengan penuh kesedihan. Beberapa hari kemudian ia melihat perangkap tikus tersebut sudah tidak digunakan lagi.

——————
Maka, Kalau suatu hari nanti kita mendengar seseorang dalam kesulitan dan mengira itu bukan urusan kita… mungkin kita perlu berpikir ulang ya. Salam.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: