Juta Ajrullah

Berbagi Demi Kebahagiaan Hakiki

Menyambut Kelahiran Nabi Isa as. (1)

Posted by jutaajrullah on 20 December 2013

Menyambut Kelahiran Nabi Isa as. (1)

(Nabi Isa tidak lahir di bulan Desember)

Oleh: Juta Ajrullah

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.”
(QS. Ali Imran: 19)

Bulan Desember selain sebagai bulan terakhir dalam kalender Masehi juga kita ketahui bahwa di dalamnya terdapat satu Hari Raya kaum Nasrani (Kristen Katolik), yaitu Hari Natal yang diperingati setiap tanggal 25 Desember. Kaum Nasrani meyakini bahwa pada hari itu Isa lahir sebagai anak Tuhan. Dilihat dari sudut sejarah Kristen, kelahiran Isa ini tidak ada keterangan yang pasti, ada yang mengatakan bulan April, ada yang menyebutkan bulan September dan ada juga yang meyakininya pada bulan Januari.

Dalam ajaran kekristenan, perintah untuk menyelenggarakan peringatan Natal sebetulnya tidak ada dalam Injil dan Yesus tidak pernah memberikan contoh ataupun memerintahkan pada muridnya untuk menyelenggarakan peringatan kelahirannya. Perayaan Natal baru masuk dalam ajaran Kristen Katolik pada abad ke 4 M. Dan peringatan inipun berasal dari upacara adat masyarakat penyembah berhala (paganisme). Dimana kita ketahui bahwa abad ke-1 sampai abad ke-4 M dunia masih dikuasai oleh imperium romawi yang paganis politheisme. Ketika Konstantin dan rakyat Romawi menjadi penganut agama Katolik, mereka tidak mampu meninggalkan adat/ budaya pagannya, apalagi terhadap pesta rakyat untuk memperingati hari Sunday (sun = matahari; day = hari) yaitu kelahiran Dewa Matahari tanggal 25 Desember (Irene Handono: 2003).

Maka agar agama Katolik bisa diterima dalam kehidupan masyarakat Romawi pada saat itu diadakanlah perpaduan agama dan budaya (sinkretisme), dengan cara menyatukan perayaan kelahiran Sun of God (Dewa Matahari) dengan kelahiran Son of God (Anak Tuhan = Yesus). Kemudian pada konsili tahun 325, Konstantin memutuskan dan menetapkan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus. Diputuskan juga bahwa: (1) hari Minggu (Sunday = hari matahari) dijadikan sebagai pengganti hari Sabat yang menurut hitungan jatuh pada hari Sabtu. (2) lambang dewa matahari yaitu sinar yang bersilang dijadikan lambang Kristen. (3) membuat patung-patung Yesus, untuk menggantikan patung Dewa Matahari (Irene Handono, 2003).

  Setelah Kaisar Konstantin memeluk agama Katolik pada abad ke-4 Masehi, maka rakyat pun beramai-ramai ikut memeluk agama Katolik. Inilah hasil proses sinkretisme Kristen oleh Kaisar Konstantin dengan agama pagan politheisme yang akhirnya berkembang hingga era modern saat ini. Padahal bila dirunut lebih lanjut dalam Injil sendiripun telah disebutkan larangan untuk mengikuti bangsa-bangsa penyembah berhala (Yeremia 10: 2-5).

Kapan waktu kelahiran Yesus sebagai anak Tuhan sebetulnya juga tidak disebutkan dengan jelas pada keterangan, literatur dan referensi Kristen Katolik. Dalam Injil, Kelahiran Yesus disebutkan dalam Lukas 2: 1-8 (disebutkan lahir pada 7 M = 579 Romawi) dan Matius 2: 1, 10, 11 (disebutkan lahir antara 37 SM – 4 M (749 Romawi) yang keduanya justru saling bertentangan soal waktu kelahiran Yesus (Markus dan Yohanes tidak menyebutkan kisah kelahiran Yesus).  Namun begitu, keduanya juga tidak menyebutkan bahwa kelahiran Yesus tanggal 25 Desember. Penggambaran kelahiran yang ditandai dengan bintang-bintang di langit dan gembala yang sedang menjaga kawanan domba yang dilepas bebas di padang rumput beratapkan langit dengan bintang-bintangnya yang gemerlapan, menunjukkan kondisi musim panas sehingga gembala berdiam di padang rumput dengan domba-domba mereka pada malam hari untuk menghindari sengatan matahari. Sebab jelas 25 Desember adalah musim dingin sehingga menggembala pada malam hari adalah sangatlah tidak mungkin.

Sangat banyak literaur, referensi, dan juga tokoh dalam Kristen Katolik sendiri yang menyangkal dan melemahkan keyakinan umat Nasrani seputar peristiwa kelahiran Yesus dan penetapan tanggal 25 Desember sebagai Hari Kelahiran Yesus, diantaranya dalam Catholic Encyclopedia, edisi 1911, Encyclopedia Britanica, edisi 1946, Encyclopedia Americana, edisi tahun 1944, penjelasan Dr. Arthus S. Peak, dalam Commentary on the Bible, uraian Uskup Barns dalam Rise of Christianity, keterangan Dr. Charles Franciss Petter, MA., B.D., S.T.M. dalam The Lost Years of Jesus Revealed, dan pernyataan yang sangat terkenal dari John Barton, seorang profesor tafsir naskah-naskah suci Kristen dari Oxford University yang mengatakan: “Kami bahkan tidak tahu pada musim apa dia (Yesus) dilahirkan. Semua pemikiran tentang perayaan kelahirannya selama masa paling gelap dari sepanjang tahun, kemungkinan berkaitan dengan tradisi pagan dan titik balik matahari di musim dingin”.

Paling baru, adalah tulisan Paus Benedictus XVI dalam bukunya, ‘Jesus of Nazareth: The Infancy Narrative’ (2012). Dalam buku tersebut, Paus XVI menguraikan beberapa fakta yang mempertentangkan seputar kelahiran Yesus Kristus. Antara lain ia berpandangan bahwa kalender Kristen salah. Perhitungan tentang kelahiran Yesus yang selama ini diyakini adalah keliru. Kemungkinan, Yesus dilahirkan antara tahun 6 SM dan 4 SM. Materi-materi yang muncul dalam tradisi perayaan Natal, seperti rusa, keledai dan binatang-binatang lainnya dalam kisah kelahiran Yesus, menurutnya sebenarnya tidak ada, alias hanya mengada-ada. Paus Benediktus XVI juga mempermasalahkan tempat kelahiran Yesus, menurutnya Yesus bukan lahir di Nazareth sebagaimana yang diyakini secara umum.

Dalam Islam, Allah telah mengabadikan kisah kelahiran Nabi Isa as untuk kita cermati bersama. Dalam Surat Maryam Allah berfirman:

{فَأَجَاءَهَا الْمَخَاضُ إِلَى جِذْعِ النَّخْلَةِ قَالَتْ يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَنْسِيًّا (23) فَنَادَاهَا مِنْ تَحْتِهَا أَلَّا تَحْزَنِي قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا (24) وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا } [مريم: 23 – 25]

“Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (Maryam) bersandar pada pangkal pohon kurma, ia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan, Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu, Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. (QS. Maryam: 23-25)

Dari ayat tersebut dapat dilihat dengan jelas bahwa Nabi Isa lahir ketika adanya buah rutob atau kurma muda yang baru masak, sebagaimana disebutkan dalam ayat 25. Pohon kurma tidak akan menghasilkan buah rutob kecuali di musim panas dan di musim dingin hampir mustahil ditemukan buah kurma yang masak. Ibnu Qatsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa berdasarkan hadist-hadist yang ada, sebagian besar ulama menerangkan bahwa lokasi kelahiran Nabi Isa ada di Baitullahmi, atau yang sekarang disebut Betlehem di Palestina (dalam riwayat An Nasa’i dari Anas dan riwayat al-Baihaqi dari Syaddad bin Ats). Tentu kita semua tahu bahwa sampai detik ini, di Palestina pada bulan Desember masih musim dingin. Hal ini menunjukkan bahwa Nabi Isa tidak lahir di bulan Desember, karena Desember masuk dalam musim dingin.

Maka sungguh besar kekuasaan Allah yang mensifati kaum Nasrani selalu mencampuradukkan antara kebenaran dengan kebathilan, menambah-nambahkan/ melampaui batas apa yang sudah ditentukan Allah (lihat QS. Al Maidah: 77-78), bahkan mendustakan firman-firman Allah swt dan menyembunyikan kebenaran-Nya walaupun mereka mengetahuinya (lihat QS. Al Baqarah: 75, QS. Al Maidah: 79, QS. Ali Imron: 78). Termasuk dalam penentuan Hari Raya yang sebetulnya tidak ada tuntunannya justru diadakan dengan menggambungkan ke dalam tradisi pagan yang sangat jelas dilarang dalam ajaran Nasrani yang ironisnya perayaan tersebut masih berlangsung hingga saat ini. Oleh karenanya, sangatlah nyata kesesasatan mereka dalam beribadah kepada Tuhannya. Allah berfiman:

كَانُوا لا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ 
“Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu” (QS. Al Maidah: 79).

Wallahu a’lam bishowab..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: