Juta Ajrullah

Berbagi Demi Kebahagiaan Hakiki

Menyambut Kelahiran Nabi Isa as. (2)

Posted by jutaajrullah on 20 December 2013

Menyambut Kelahiran Nabi Isa as. (2)

(Toleransi Beragama)

Oleh: Juta Ajrullah

Setelah mengetahui fakta sesungguhnya dari penjelasan di atas, sebagai umat Islam yang meyakini kebenaran Al Qur’an dan beriman serta bertakwa hanya kepada Allah swt, maka marilah kita menata hati, sikap dan pikiran kita dalam menyikapi perayaan Hari Natal umat Nasrani. Dengan mengetahui kesesatan semua ajaran-ajaran yang dianut khususnya dalam merayakan Hari Natal sudah seharusnya kita tidak membantu, berpartisipasi atau turut campur dalam semua akhtivitas yang berkaitan dengan perayaan hari itu. Bagaimana mungkin kita sebagai umat Islam yang telah mengetahui kekeliruan perayaan Natal justru ikut ambil bagian dalam perayaan itu?! Sudah seharusnya kita menahan diri dan menghindari terlibat lebih jauh dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengannya, seperti: menghadiri perayaan natal, menonton berbagai pertunjukan seputar Natal, mengucapkan selamat Natal, memberikan bingkisan dalam perayaan Natal, membantu persiapan perayaan Natal, dan kegiatan lain dalam rangka meramaikan perayaan Natal.

Peran serta aktif kita dalam berbagai perayaan hari besar agama lain merupakan dukungan terhadap ajaran dan perayaan yang mereka yakini, padahal kita tahu bahwa apa yang mereka rayakan itu jauh dari kebenaran. Jika kita mengetahui kesesatan di depan kita, mengapa kita dukung orang lain menjalaninya? Seandanya saja kita tidak menyadari sedang dalam kesesatan, gembirakah kita jika ada yang memberitahukan kebenaran yang sesungguhnya? Atau, boleh jadi mereka mengetahui kekeliruan itu, tapi menutupinya sampai kita tidak sadar telah masuk dalam perangkap kaum Nasrani dan menjadi kafir pula. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita selalu waspada mengenai hal ini sebagaimana sabda Rasulullah salallahu ‘alaihi wasallam, dari Abu Sa’id Al-Khudry radhiyallahu ‘anhu:

 لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ، وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوْا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوْهُ. قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ الْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى! قَالَ: فَمَنْ

 “Sungguh kalian betul-betul akan mengikuti jalan-jalan orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta hingga, andaikata mereka masuk ke lubang dhab, niscaya kalian akan mengikutinya,” Kami berkata, “Wahai Rasulullah, apakah mereka adalah orang-orang Yahudi dan Nashara?” Beliau menjawab, “(Ya), siapa lagi (kalau bukan mereka)?” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim)

Kita umat Islam hendaknya mengembangkan sikap toleransi dan tenggang rasa dengan benar dan tepat, tidak mencampuradukkan antara toleransi dan tolong-menolong urusan duniawi dengan toleransi dalam urusan aqidah. Dalam urusan duniawai, Allah telah menganjurkan kita untuk bermuamalah dengan sesama manusia, sebagaimana firmanNya:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. Al Hujurat: 13). Dalam bermuamalah dengan sesama manusia itu, kita dianjurkan untuk saling Tolong menolong dalam hal kebaikan dan ketakwaan kepada Allah SWT bukannya tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan pelanggaran ajaran-Nya (QS. Al Maidah: 2)

Disamping itu, kita umat Islam tidak boleh mencampuradukkan akidah dan peribadatan agama lain dengan agama Islam. Allah berfirman:

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ (1) لا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ (2) وَلا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (3)
وَلا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ (4) وَلا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (5) لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ (6)

Artinya: (1) Katakanlah: “Hai orang-orang kafir, (2) aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. (3) dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. (4.) dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. (5) dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. (6.) untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS. Al Kafirun: 1-6)

Berpartisipasi dalam Hari Raya mereka bisa disebut juga menyerupai mereka. Padahal, Islam telah melarang menyerupai orang-orang kafir. Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang menyerupai satu kaum, maka ia termasuk dalam golongan mereka.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad) Sementara itu, Umar bin Al-Khattab pernah menyatakan: “Jauhilah musuh-musuh Allah pada Hari Raya mereka.” (HR. Al-Baihaqi)

Ibnul Qayyim Rahimahullah menyatakan: “Kaum muslimin tidak boleh menghadiri perayaan Hari-hari Raya kaum musyrikin menurut kesepakatan para ulama yang berhak memberikan fatwa. Para ulama fikih dari madzhab yang empat sudah menegaskan hal itu dalam buku-buku mereka. Imam Al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Umar bin Al-Khattab Radhiallahu ‘anhu bahwa beliau pernah berkata: “Janganlah menemui orang-orang musyrik di gereja-gereja mereka pada Hari Raya mereka. Karena kemurkaan Allah sedang turun di antara mereka.” Imam Al-Baihaqi juga meriwayatkan dengan sanad yang bagus dari Abdullah bin Amru Radhiallahu ‘anhuma beliau pernah berkata: “Barangsiapa lewat di negeri non Arab, lalu mereka sedang merayakan Hari Nairuz dan festival keagamaan mereka, lalu ia meniru mereka hingga mati, maka demikianlah ia dibangkitkan bersama mereka di Hari Kiamat nanti.” (lihat Ahkaamu Ahlidz Dzimmah I: 723-724).

Majelis Ulama Indonesia pada tgl. 7 Maret 1981 telah memfatwakan bahwa mengikuti upacara natal hukumnya Haram bagi umat Islam. Dalam fatwa tersebut, MUI juga menganjurkan agar umat Islam tidak terjerumus kepada Syubhat dan larangan Allah SWT yang berujung Dosa, maka tidak diperbolehkan mengikuti segala bentuk kegiatan Natal, mulai dari perencanaan hingga kegiatan tersebut selesai. Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitabnya Ahkamu Ahlidz Dzimmah mengatakan, “Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya. Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan”. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi peringatan kepada kita:

لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ

“Janganlah kalian mendahului Yahudi dan Nashara dalam salam (ucapan selamat).” (HR. Muslim No. 2167)

Wallahu a’lam bishowab..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: