Juta Ajrullah

Berbagi Demi Kebahagiaan Hakiki

Posts Tagged ‘Kristen’

Menyambut Kelahiran Nabi Isa as. (2)

Posted by jutaajrullah on 20 December 2013

Menyambut Kelahiran Nabi Isa as. (2)

(Toleransi Beragama)

Oleh: Juta Ajrullah

Setelah mengetahui fakta sesungguhnya dari penjelasan di atas, sebagai umat Islam yang meyakini kebenaran Al Qur’an dan beriman serta bertakwa hanya kepada Allah swt, maka marilah kita menata hati, sikap dan pikiran kita dalam menyikapi perayaan Hari Natal umat Nasrani. Dengan mengetahui kesesatan semua ajaran-ajaran yang dianut khususnya dalam merayakan Hari Natal sudah seharusnya kita tidak membantu, berpartisipasi atau turut campur dalam semua akhtivitas yang berkaitan dengan perayaan hari itu. Bagaimana mungkin kita sebagai umat Islam yang telah mengetahui kekeliruan perayaan Natal justru ikut ambil bagian dalam perayaan itu?! Sudah seharusnya kita menahan diri dan menghindari terlibat lebih jauh dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengannya, seperti: menghadiri perayaan natal, menonton berbagai pertunjukan seputar Natal, mengucapkan selamat Natal, memberikan bingkisan dalam perayaan Natal, membantu persiapan perayaan Natal, dan kegiatan lain dalam rangka meramaikan perayaan Natal.

Peran serta aktif kita dalam berbagai perayaan hari besar agama lain merupakan dukungan terhadap ajaran dan perayaan yang mereka yakini, padahal kita tahu bahwa apa yang mereka rayakan itu jauh dari kebenaran. Jika kita mengetahui kesesatan di depan kita, mengapa kita dukung orang lain menjalaninya? Seandanya saja kita tidak menyadari sedang dalam kesesatan, gembirakah kita jika ada yang memberitahukan kebenaran yang sesungguhnya? Atau, boleh jadi mereka mengetahui kekeliruan itu, tapi menutupinya sampai kita tidak sadar telah masuk dalam perangkap kaum Nasrani dan menjadi kafir pula. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita selalu waspada mengenai hal ini sebagaimana sabda Rasulullah salallahu ‘alaihi wasallam, dari Abu Sa’id Al-Khudry radhiyallahu ‘anhu:

 لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ، وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوْا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوْهُ. قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ الْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى! قَالَ: فَمَنْ

 “Sungguh kalian betul-betul akan mengikuti jalan-jalan orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta hingga, andaikata mereka masuk ke lubang dhab, niscaya kalian akan mengikutinya,” Kami berkata, “Wahai Rasulullah, apakah mereka adalah orang-orang Yahudi dan Nashara?” Beliau menjawab, “(Ya), siapa lagi (kalau bukan mereka)?” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim)

Kita umat Islam hendaknya mengembangkan sikap toleransi dan tenggang rasa dengan benar dan tepat, tidak mencampuradukkan antara toleransi dan tolong-menolong urusan duniawi dengan toleransi dalam urusan aqidah. Dalam urusan duniawai, Allah telah menganjurkan kita untuk bermuamalah dengan sesama manusia, sebagaimana firmanNya:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. Al Hujurat: 13). Dalam bermuamalah dengan sesama manusia itu, kita dianjurkan untuk saling Tolong menolong dalam hal kebaikan dan ketakwaan kepada Allah SWT bukannya tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan pelanggaran ajaran-Nya (QS. Al Maidah: 2)

Disamping itu, kita umat Islam tidak boleh mencampuradukkan akidah dan peribadatan agama lain dengan agama Islam. Allah berfirman:

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ (1) لا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ (2) وَلا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (3)
وَلا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ (4) وَلا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (5) لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ (6)

Artinya: (1) Katakanlah: “Hai orang-orang kafir, (2) aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. (3) dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. (4.) dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. (5) dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. (6.) untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS. Al Kafirun: 1-6)

Berpartisipasi dalam Hari Raya mereka bisa disebut juga menyerupai mereka. Padahal, Islam telah melarang menyerupai orang-orang kafir. Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang menyerupai satu kaum, maka ia termasuk dalam golongan mereka.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad) Sementara itu, Umar bin Al-Khattab pernah menyatakan: “Jauhilah musuh-musuh Allah pada Hari Raya mereka.” (HR. Al-Baihaqi)

Ibnul Qayyim Rahimahullah menyatakan: “Kaum muslimin tidak boleh menghadiri perayaan Hari-hari Raya kaum musyrikin menurut kesepakatan para ulama yang berhak memberikan fatwa. Para ulama fikih dari madzhab yang empat sudah menegaskan hal itu dalam buku-buku mereka. Imam Al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Umar bin Al-Khattab Radhiallahu ‘anhu bahwa beliau pernah berkata: “Janganlah menemui orang-orang musyrik di gereja-gereja mereka pada Hari Raya mereka. Karena kemurkaan Allah sedang turun di antara mereka.” Imam Al-Baihaqi juga meriwayatkan dengan sanad yang bagus dari Abdullah bin Amru Radhiallahu ‘anhuma beliau pernah berkata: “Barangsiapa lewat di negeri non Arab, lalu mereka sedang merayakan Hari Nairuz dan festival keagamaan mereka, lalu ia meniru mereka hingga mati, maka demikianlah ia dibangkitkan bersama mereka di Hari Kiamat nanti.” (lihat Ahkaamu Ahlidz Dzimmah I: 723-724).

Majelis Ulama Indonesia pada tgl. 7 Maret 1981 telah memfatwakan bahwa mengikuti upacara natal hukumnya Haram bagi umat Islam. Dalam fatwa tersebut, MUI juga menganjurkan agar umat Islam tidak terjerumus kepada Syubhat dan larangan Allah SWT yang berujung Dosa, maka tidak diperbolehkan mengikuti segala bentuk kegiatan Natal, mulai dari perencanaan hingga kegiatan tersebut selesai. Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitabnya Ahkamu Ahlidz Dzimmah mengatakan, “Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya. Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan”. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi peringatan kepada kita:

لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ

“Janganlah kalian mendahului Yahudi dan Nashara dalam salam (ucapan selamat).” (HR. Muslim No. 2167)

Wallahu a’lam bishowab..

Advertisements

Posted in Current Happen, Religiusitas | Tagged: , , , , , | Leave a Comment »

Menyambut Kelahiran Nabi Isa as. (1)

Posted by jutaajrullah on 20 December 2013

Menyambut Kelahiran Nabi Isa as. (1)

(Nabi Isa tidak lahir di bulan Desember)

Oleh: Juta Ajrullah

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.”
(QS. Ali Imran: 19)

Bulan Desember selain sebagai bulan terakhir dalam kalender Masehi juga kita ketahui bahwa di dalamnya terdapat satu Hari Raya kaum Nasrani (Kristen Katolik), yaitu Hari Natal yang diperingati setiap tanggal 25 Desember. Kaum Nasrani meyakini bahwa pada hari itu Isa lahir sebagai anak Tuhan. Dilihat dari sudut sejarah Kristen, kelahiran Isa ini tidak ada keterangan yang pasti, ada yang mengatakan bulan April, ada yang menyebutkan bulan September dan ada juga yang meyakininya pada bulan Januari.

Dalam ajaran kekristenan, perintah untuk menyelenggarakan peringatan Natal sebetulnya tidak ada dalam Injil dan Yesus tidak pernah memberikan contoh ataupun memerintahkan pada muridnya untuk menyelenggarakan peringatan kelahirannya. Perayaan Natal baru masuk dalam ajaran Kristen Katolik pada abad ke 4 M. Dan peringatan inipun berasal dari upacara adat masyarakat penyembah berhala (paganisme). Dimana kita ketahui bahwa abad ke-1 sampai abad ke-4 M dunia masih dikuasai oleh imperium romawi yang paganis politheisme. Ketika Konstantin dan rakyat Romawi menjadi penganut agama Katolik, mereka tidak mampu meninggalkan adat/ budaya pagannya, apalagi terhadap pesta rakyat untuk memperingati hari Sunday (sun = matahari; day = hari) yaitu kelahiran Dewa Matahari tanggal 25 Desember (Irene Handono: 2003).

Maka agar agama Katolik bisa diterima dalam kehidupan masyarakat Romawi pada saat itu diadakanlah perpaduan agama dan budaya (sinkretisme), dengan cara menyatukan perayaan kelahiran Sun of God (Dewa Matahari) dengan kelahiran Son of God (Anak Tuhan = Yesus). Kemudian pada konsili tahun 325, Konstantin memutuskan dan menetapkan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus. Diputuskan juga bahwa: (1) hari Minggu (Sunday = hari matahari) dijadikan sebagai pengganti hari Sabat yang menurut hitungan jatuh pada hari Sabtu. (2) lambang dewa matahari yaitu sinar yang bersilang dijadikan lambang Kristen. (3) membuat patung-patung Yesus, untuk menggantikan patung Dewa Matahari (Irene Handono, 2003).

  Setelah Kaisar Konstantin memeluk agama Katolik pada abad ke-4 Masehi, maka rakyat pun beramai-ramai ikut memeluk agama Katolik. Inilah hasil proses sinkretisme Kristen oleh Kaisar Konstantin dengan agama pagan politheisme yang akhirnya berkembang hingga era modern saat ini. Padahal bila dirunut lebih lanjut dalam Injil sendiripun telah disebutkan larangan untuk mengikuti bangsa-bangsa penyembah berhala (Yeremia 10: 2-5).

Kapan waktu kelahiran Yesus sebagai anak Tuhan sebetulnya juga tidak disebutkan dengan jelas pada keterangan, literatur dan referensi Kristen Katolik. Dalam Injil, Kelahiran Yesus disebutkan dalam Lukas 2: 1-8 (disebutkan lahir pada 7 M = 579 Romawi) dan Matius 2: 1, 10, 11 (disebutkan lahir antara 37 SM – 4 M (749 Romawi) yang keduanya justru saling bertentangan soal waktu kelahiran Yesus (Markus dan Yohanes tidak menyebutkan kisah kelahiran Yesus).  Namun begitu, keduanya juga tidak menyebutkan bahwa kelahiran Yesus tanggal 25 Desember. Penggambaran kelahiran yang ditandai dengan bintang-bintang di langit dan gembala yang sedang menjaga kawanan domba yang dilepas bebas di padang rumput beratapkan langit dengan bintang-bintangnya yang gemerlapan, menunjukkan kondisi musim panas sehingga gembala berdiam di padang rumput dengan domba-domba mereka pada malam hari untuk menghindari sengatan matahari. Sebab jelas 25 Desember adalah musim dingin sehingga menggembala pada malam hari adalah sangatlah tidak mungkin.

Sangat banyak literaur, referensi, dan juga tokoh dalam Kristen Katolik sendiri yang menyangkal dan melemahkan keyakinan umat Nasrani seputar peristiwa kelahiran Yesus dan penetapan tanggal 25 Desember sebagai Hari Kelahiran Yesus, diantaranya dalam Catholic Encyclopedia, edisi 1911, Encyclopedia Britanica, edisi 1946, Encyclopedia Americana, edisi tahun 1944, penjelasan Dr. Arthus S. Peak, dalam Commentary on the Bible, uraian Uskup Barns dalam Rise of Christianity, keterangan Dr. Charles Franciss Petter, MA., B.D., S.T.M. dalam The Lost Years of Jesus Revealed, dan pernyataan yang sangat terkenal dari John Barton, seorang profesor tafsir naskah-naskah suci Kristen dari Oxford University yang mengatakan: “Kami bahkan tidak tahu pada musim apa dia (Yesus) dilahirkan. Semua pemikiran tentang perayaan kelahirannya selama masa paling gelap dari sepanjang tahun, kemungkinan berkaitan dengan tradisi pagan dan titik balik matahari di musim dingin”.

Paling baru, adalah tulisan Paus Benedictus XVI dalam bukunya, ‘Jesus of Nazareth: The Infancy Narrative’ (2012). Dalam buku tersebut, Paus XVI menguraikan beberapa fakta yang mempertentangkan seputar kelahiran Yesus Kristus. Antara lain ia berpandangan bahwa kalender Kristen salah. Perhitungan tentang kelahiran Yesus yang selama ini diyakini adalah keliru. Kemungkinan, Yesus dilahirkan antara tahun 6 SM dan 4 SM. Materi-materi yang muncul dalam tradisi perayaan Natal, seperti rusa, keledai dan binatang-binatang lainnya dalam kisah kelahiran Yesus, menurutnya sebenarnya tidak ada, alias hanya mengada-ada. Paus Benediktus XVI juga mempermasalahkan tempat kelahiran Yesus, menurutnya Yesus bukan lahir di Nazareth sebagaimana yang diyakini secara umum.

Dalam Islam, Allah telah mengabadikan kisah kelahiran Nabi Isa as untuk kita cermati bersama. Dalam Surat Maryam Allah berfirman:

{فَأَجَاءَهَا الْمَخَاضُ إِلَى جِذْعِ النَّخْلَةِ قَالَتْ يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَنْسِيًّا (23) فَنَادَاهَا مِنْ تَحْتِهَا أَلَّا تَحْزَنِي قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا (24) وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا } [مريم: 23 – 25]

“Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (Maryam) bersandar pada pangkal pohon kurma, ia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan, Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu, Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. (QS. Maryam: 23-25)

Dari ayat tersebut dapat dilihat dengan jelas bahwa Nabi Isa lahir ketika adanya buah rutob atau kurma muda yang baru masak, sebagaimana disebutkan dalam ayat 25. Pohon kurma tidak akan menghasilkan buah rutob kecuali di musim panas dan di musim dingin hampir mustahil ditemukan buah kurma yang masak. Ibnu Qatsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa berdasarkan hadist-hadist yang ada, sebagian besar ulama menerangkan bahwa lokasi kelahiran Nabi Isa ada di Baitullahmi, atau yang sekarang disebut Betlehem di Palestina (dalam riwayat An Nasa’i dari Anas dan riwayat al-Baihaqi dari Syaddad bin Ats). Tentu kita semua tahu bahwa sampai detik ini, di Palestina pada bulan Desember masih musim dingin. Hal ini menunjukkan bahwa Nabi Isa tidak lahir di bulan Desember, karena Desember masuk dalam musim dingin.

Maka sungguh besar kekuasaan Allah yang mensifati kaum Nasrani selalu mencampuradukkan antara kebenaran dengan kebathilan, menambah-nambahkan/ melampaui batas apa yang sudah ditentukan Allah (lihat QS. Al Maidah: 77-78), bahkan mendustakan firman-firman Allah swt dan menyembunyikan kebenaran-Nya walaupun mereka mengetahuinya (lihat QS. Al Baqarah: 75, QS. Al Maidah: 79, QS. Ali Imron: 78). Termasuk dalam penentuan Hari Raya yang sebetulnya tidak ada tuntunannya justru diadakan dengan menggambungkan ke dalam tradisi pagan yang sangat jelas dilarang dalam ajaran Nasrani yang ironisnya perayaan tersebut masih berlangsung hingga saat ini. Oleh karenanya, sangatlah nyata kesesasatan mereka dalam beribadah kepada Tuhannya. Allah berfiman:

كَانُوا لا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ 
“Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu” (QS. Al Maidah: 79).

Wallahu a’lam bishowab..

Posted in Current Happen, Religiusitas | Tagged: , , , , , | Leave a Comment »

Pelajari Al-Quran Untuk Buktikan Kesalahan Islam, Aktris Inggris Justru Mengakui Kebenaran Islam

Posted by jutaajrullah on 3 October 2013

Myriam Francois-Cerrah sudah sangat populer di Inggris ketika dirinya masih anak-anak. Ia adalah pemain film ‘Sense and Sensibility‘yang ngetop di era 09-an. Ketika ia memutuskan dirinya menjadi seorang mualaf, popularitas dirinya semakin melonjak. Ia adalah seorang mualaf wanita terpelajar kelas menengah di Inggris.

Myriam merujuk pada peristiwa serangan 11 September 2001 di AS sebagai motif di balik keingintahuannya tentang Islam. Itulah yang membuat dirinya menyatakan diri masuk Islam.

Ia menyebut bahwa kehidupan Nabi Muhammad (SAW) sebagai seseorang yang membuatnya termotivasi untuk mengubah karirnya.

Myriam menggambarkan Nabi Muhammad sebagai salah satu tokoh besar dalam sejarah yang telah disalahpahami. Dia mengutip beberapa perkataan populer Nabi Muhammad SAW, dan salah satu kutipan favoritnya adalah, “Maafkan orang yang bersalah kepada Anda. Jalinlah hubungan dengannya. Berbuat baiklah kepada orang yang telah berbuat jahat kepada Anda dan berbicara tentang kebenaran bahkan jika itu bertentangan dengan diri Anda sendiri.”

Awalnya, sarjana filsafat lulusan Universitas Cambridge ini membuka Alquran dengan perasaan”marah”. Ia berdiskusi soal Tuhan dengan teman kuliahnya. Sang teman, menggunakan dalil ketuhanan sesuai apa yang disebutkan dalam konsep Islam. “Saya mempelajarinya sebagai bagian dari upaya untuk membuktikan pendapat teman saya yang seorang Muslim itu salah,” ujarnya.

Kemudian ia mulai membaca dengan pikiran yang lebih terbuka. Pembukaan Al Fatihah mencengangkannya. “Dalam Islam, seluruh tindakan manusia, dia sendiri yang akan menanggung konsekuensinya. Itulah pentingnya dia mengambil jalan lurus, jalan Tuhan,” ujarnya. Makin lama belajar Alquran, makin besar keinginan Myriam untuk menganut agama Islam. Tujuan semula, mendebat argumentasi temannya, berubah menjadi pengakuan, “Kamu benar tentang agamamu!”

Tak mau buang waktu, ia segera bersyahadat. “Beberapa teman dekat saya melakukan yang terbaik untuk mendukung saya dan memahami keputusan saya. Saya tetap sangat dekat dengan beberapa teman masa kecil saya dan melalui mereka saya mengakui universalitas pesan Ilahi, bahwa nilai-nilai Tuhan bersinar melalui  perbuatan baik manusia, Muslim maupun bukan,” katanya.

Ia menyatakan, konversi keimanannya bukan sebagai ‘reaksi’ terhadap, atau oposisi terhadap budaya Barat. “Sebaliknya, itu merupakan validasi dari apa yang  selalu saya pikirkan,” ujarnya, seraya mengkritik beberapa masjid di Inggris yang menutup pintu dialog tentang ketuhanan dan terlalu dogmatis. “Catat: aturan dan protokol mereka banyak yang membingungkan dan malah bikin stres.”

“Menjadi Muslim, tidak berarti kita  kehilangan semua jejak diri kita sendiri. Islam adalah validasi yang baik dalam diri kita dan sarana untuk memperbaiki yang buruk,” pungkas Myriam.

Posted in Current Happen, Motivasi dan Inspirasi, Religiusitas | Tagged: , , , , , | Leave a Comment »

Ke Depan, Islam Akan Besar Di Dunia, Namun Tidak Di Indonesia

Posted by jutaajrullah on 2 May 2013

Hari ini, Islam menyebar dengan cara yang luar biasa. Jika pada 2010 jumlah pemeluk Islam mencapai 1,6  miliar jiwa, maka pada 2030 akan mencapai 2,2 miliar jiwa. Menurut lembaga The Pew Forum on Religion & Public Life, pertumbuhan jumlah umat Islam dua kali lebih besar dibandingkan non-Muslim pada dua dekade mendatang. Jika pertumbuhan jumlah umat Islam rata-rata mencapai 1,5 persen, maka non-Muslim hanya 0,7 persen.

Menyikapi fenomena itu, Direktur Islamic Center Southern California, Imam Jihad Turk menilai ada dua faktor yang menyebabkan populasi muslim meningkat pesat, pertama adalah angka kelahiran tinggi di kalangan umat Islam. Dan kedua,  berbondong-bondongnya non-Muslim memeluk Islam.

Read the rest of this entry »

Posted in Apa kmu tau!?, Religiusitas | Tagged: , , , , , | Leave a Comment »

Kisah Joseph Clair Duquette, Masuk Islam karena Benci Makan Babi

Posted by jutaajrullah on 11 January 2013

Nama saya Joseph Clair Duquette. Saya lahir di Edmonton, kota cantik nan nyaman di Provinsi Alberta, Kanada. Sebuah negara yang amat menjunjung tinggi hak-hak individu, termasuk diantaranya adalah hak untuk memeluk atau tidak memeluk suatu agama. Hal ini juga berlaku dalam keluarga saya. Mama saya penganut Katolik sementara Papa totally faithless. Tidak punya kepercayaan terhadap agama sama sekali.

Layaknya keluarga lain di Kanada, masa kecil saya tumbuh dalam kehidupan Katolik. Mama sesekali mengajak pergi ke gereja, mengenal ritus-ritusnya, termasuk juga mengenal kehidupan para pastornya.

Read the rest of this entry »

Posted in Motivasi dan Inspirasi, Religiusitas | Tagged: , , , , | Leave a Comment »